Dinkes Mahulu Waspadai ISPA Dan Diare Selama Musim Kemarau
Mahulu - Dinas Kesehatan Kabupaten Mahakam Ulu mewaspadai peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA dan diare selama musim kemarau. Penurunan debit sungai dan kondisi lingkungan yang lebih kering dinilai dapat meningkatkan risiko kedua penyakit tersebut, meski hingga kini belum terlihat kenaikan kasus secara signifikan.
Kepala Dinas Kesehatan Mahakam Ulu Petronela Tugan mengatakan ISPA dan diare merupakan penyakit yang perlu mendapat perhatian ketika kondisi cuaca memasuki periode kering. Risiko tersebut berkaitan dengan meningkatnya paparan debu dan asap serta berkurangnya ketersediaan air yang dapat memengaruhi kualitas sumber air masyarakat.
Petronela mengatakan kasus ISPA sebenarnya cukup banyak ditemukan di masyarakat. Namun, angka yang tercatat di fasilitas kesehatan belum tentu menggambarkan seluruh kasus karena sebagian warga memilih mengobati penyakit tersebut secara mandiri.
"Memang banyak yang kena ISPA, tapi banyak yang mengobati diri sendiri saja, sembuh. Jadi mereka tidak sampai ke puskesmas," kata Petronela, Rabu, 19 Agustus 2026.
Kondisi tersebut membuat pemantauan kasus ISPA tidak hanya bergantung pada jumlah pasien yang datang ke puskesmas. Sebagian masyarakat yang mengalami gejala ringan cenderung memilih beristirahat atau menggunakan obat yang tersedia di rumah sebelum memeriksakan diri ke tenaga kesehatan.
Di sisi lain, Dinkes Mahulu memberikan perhatian terhadap risiko diare yang berkaitan dengan menurunnya debit sungai. Sungai masih menjadi salah satu sumber air penting bagi masyarakat di sejumlah wilayah Mahakam Ulu untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.
Ketika debit air turun, volume air yang tersedia menjadi lebih sedikit. Dalam kondisi tertentu, konsentrasi mikroorganisme atau bakteri di dalam air dapat meningkat sehingga kualitas sumber air perlu lebih diperhatikan, terutama apabila air tersebut digunakan untuk kebutuhan rumah tangga tanpa pengolahan yang memadai.
"Karena dengan debit air yang kurang, jumlah bakteri itu bisa lebih banyak," ungkapnya.
Menurut Petronela, masyarakat perlu menjaga sumber air dengan tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Imbauan tersebut terutama ditujukan terhadap pembuangan popok sekali pakai yang masih mengandung kotoran.
Limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai dapat meningkatkan risiko pencemaran sumber air. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kemungkinan kontaminasi bakteri Escherichia coli atau E. coli yang dapat berkaitan dengan pencemaran dari kotoran manusia.
Karena itu, kondisi air yang tampak secara kasatmata tidak dapat menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan apakah air aman digunakan. Air sungai yang terlihat jernih belum tentu bebas dari mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit.
"Walaupun airnya kelihatan jernih, tapi belum tentu itu bersih," tegasnya.
Risiko tersebut menjadi lebih relevan ketika masyarakat menghadapi keterbatasan sumber air selama musim kemarau. Penurunan debit sungai dapat mendorong penggunaan sumber air yang kualitasnya belum tentu terjamin apabila tidak dilakukan pengolahan terlebih dahulu.
Dinkes Mahulu karena itu mengingatkan masyarakat agar lebih memperhatikan kebersihan air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Air untuk konsumsi maupun kebutuhan rumah tangga perlu dipastikan aman agar tidak menjadi sumber penularan penyakit.
Selain diare, musim kemarau juga dapat meningkatkan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan sistem pernapasan. Kondisi lingkungan yang kering membuat debu lebih mudah beterbangan, terutama ketika aktivitas kendaraan atau angin mengangkat material dari permukaan tanah.
Paparan asap juga menjadi perhatian apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan. Asap dari kebakaran dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan paparan terhadap masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran.
Mahakam Ulu sebelumnya mengalami kebakaran hutan dan lahan di dua titik di Kampung Ujoh Bilang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Mahulu menyatakan kebakaran di Gang Dunhil dan Jalan Gang Tepili Nyalung berhasil ditangani sebelum meluas.
Situasi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat kewaspadaan terhadap gangguan pernapasan perlu dipertahankan selama musim kemarau. Debu dan asap dapat menjadi pemicu atau memperburuk keluhan pernapasan, terutama pada masyarakat yang sensitif terhadap perubahan kualitas udara.
Namun, Dinkes Mahulu membedakan pemantauan ISPA dan diare dari sisi potensi kejadian luar biasa atau KLB. Diare dapat menjadi perhatian apabila terjadi peningkatan kasus secara signifikan dan memenuhi kriteria tertentu untuk ditetapkan sebagai KLB.
Sementara ISPA tidak dikategorikan sebagai penyakit yang mengalami KLB, meski jumlah kasusnya dapat meningkat ketika masyarakat lebih banyak terpapar debu dan asap selama musim kemarau.
Karena itu, pemantauan kondisi kesehatan masyarakat tetap diperlukan meskipun belum terdapat peningkatan kasus yang signifikan. Dinkes Mahulu juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menunggu kondisi kesehatan memburuk sebelum mencari pertolongan medis.
"Jadi dalam kondisi seperti ini memang kita harus tetap waspada, menjaga kesehatan itu penting," serunya.
Kewaspadaan tersebut mencakup kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, keamanan sumber air, serta perlindungan diri dari paparan debu dan asap. Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, terutama ketika debit sungai terus menurun dan potensi kebakaran meningkat.
Bagi Mahakam Ulu, persoalan kesehatan selama musim kemarau berkaitan erat dengan kondisi geografis dan ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya alam di sekitarnya. Penurunan debit Sungai Mahakam tidak hanya berdampak pada transportasi dan distribusi logistik, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap akses masyarakat terhadap air.
Karena itu, upaya pencegahan penyakit selama musim kemarau tidak hanya menjadi tanggung jawab fasilitas kesehatan. Perilaku masyarakat dalam menjaga sumber air dan lingkungan juga menjadi bagian penting untuk menekan risiko penyakit.
Dinkes Mahulu terus mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan hingga kondisi cuaca kembali normal. Pengendalian pencemaran sumber air dan pengurangan paparan debu serta asap menjadi langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk menjaga kesehatan selama musim kemarau. (ADV)
